Posts

Showing posts with the label Antropologi

Sejarah Perkembangan Negara Jepang

Jepang merupakan sebuah negara yang dikelilingi oleh laut. Tapi pada kenyataannya, 67% negara Jepang terdirid dari pegunungan, dengan tujuh zona gunung api. Gempa bumi sering terjadi dan tidak mungkin bagi orang-orang Jepang di masa lalu untuk hidup di rumah-rumah yang terbuat dari batu. Ada empat musim di Jepang (musim semi: Maret – Mei; musim panas: Juni – Agustus; musim gugur: September – Oktober; musim dingin: desember – Februari). Setiap musim panas, terjadi angin puyuh dan menghancurkan lahan dan rumah. Di zaman dahulu, orang-orang Jepang harus belejar tentang perubahan segala sesuatu di alam. Di sisi lain, orang-orang Jepang menikmati perubahan-perubahan alam dengan berbagai cara. Ada yang mengatakan bahwa perubahan selalu terjadi di setiap aspek kebudayaan Jepang. Pra-sejarah     Kaisar pertama di Jepang adalah Jimmu yang hidup sekitar 660 S.M. Pada sekitar tahun 300 SM – 300 M terbetuk Budaya Yayoi yaitu mulai adanya inovasi-inovasi teknis seperti pekerjaan l...

Hipotesis Sapir-Whorf

Pokok bahasan dari bab ini tidak terlalu menekankan aliran para pemikir yang bisa dibedakan secara geografis dan kronologis, sebagai sebuah gagasan yang memiliki daya tarik abadi bagi para ahli-bahasa dari berbagai aliran, dan juga bagi banyak orang yang tidak pernah menjadi mahasiswa bahasa dalam jenjang pendidikan formal. Gagasan ini – bahwa bahasa manusia membentuk persepsinya, atau bahwa dunia yang didiami seorang manusia adalah dunia linguistik – walaupun sudah sangat lama, namun telah menjadi terkait dengan nama-nama penulis terkenal seperti Edward Sapir dari Amerika (1884-1939) dan Benjamin Lee Whorf (1897-1941), dan lebih banyak penulis setelahnya. Karya-karya para penulis ini mungkin akan dibahas pada bab terakhir, karena dianggap tercakup dalam tradisi yang dirintis oleh Boas. Saya telah memilih untuk membahas Sapir dan Whorf dalam sebuah bab khusus, karena aspek karya mereka lebih mewakili sebuah pengembangan khusus dalam aliran deskriptivis, dan termasuk yang menentang ta...

Antropologi Feminist

Dalam artikel ini, penulis menegaskan bahwa antropologi feminist sebagai sebuah bidang studi harus memiliki pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana kekuasaan diferensial dianggap sebagai perbedaan jender. Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan sebuah pendekatan terhadap penelitian jender dan kekuasaan yang mengartikulasikan hubungan antara struktur dan agensi. Pendekatan seperti ini adalah salah satu pendekatan yang menganalisis praktek jender dari waktu ke waktu berdasarkan perspektif intersubjektif dan politik. Terakhir, penulis mempertahankan bahwa antropologi feminist merupakan sebuah klaim keadilan, yang memerlukan seeuah etika keterlibatan. Bekerja pada proyek ini, para antropologis feminist memberikan kontribusi bagi perdebatan tentang konsep kebudayaan dan masalah epistemologis dari representasi dalam antropologi dengan sebuah cara yang memungkinkan antropologi berbicara lebih lancar terhadap debat sekarang dalam penelitian-penelitian kultural tetang politik kebudayaan. ...

Apakah Wanita dengan Pria sama seperti Alam dengan Kebudayaan?

Banyak kreativitas dari antropologi yang berasal dari tekanan antara dua permintaan, yaitu haruskah kita menjelaskan manusia secara keseluruhan dan haruskah kita menjelaskan kebudayaan secara khusus. Dengan kedua hal ini, berhadapan dengan subjek wanita akan menjadi lebih menantang dan lebih sulit. Status sekunder wanita dalam masyarakat adalah sebuah fakta universal namun juga budaya umum. Meski demikian, dalam fakta universal tersebut, konsepsi kultural spesifik dan simbolisasi wanita sangat berbeda dan bahkan saling kontradiksi. Lebih lanjut, perlakuan yang sebenarnya terhadap wanita dan kekuatan relatif serta kontribusi mereka sangat bervariasi dari satu budaya ke budaya lainnya, dan pada periode-periode berbeda dalam sejarah tradisi budaya tertentu. Kedua poin ini – fakta universal dan variasi budaya – membentuk masalah-masalah yang akan dijelaskan disini. Ketertarikan saya dalam hal ini tentu saja lebih dari sekedar akademik: Saya ingin melihat perubahan sesungguhnya yang terja...