Posts

AGEN-AGEN PENGEMULSI

Disini akan dibahas secara singkat pengaplikasian praktis dari berbagai pengemulsi yang digunakan secara internal. Karbohidrat, protein, eter selulosa dan padatan-padatan yang terpecah halus bisa dipertimbangkan dalam kelompok pengemulsi ini. Saponin dan anion, agen aktif-permukaan anion, kation dan nonionik tidak digunakan sebagai pengemulsi untuk preparasi internal, dengan beberapa pengecualian, karena rasa yang dimiliki, toksisitas dan aksi pengiritasnya.

Tujuan Emulsi dan Emulsifikasi

Secara farmasetik, proses emulsifikasi memungkinkan seorang apoteker membuat campuran yang relatif stabil dan homogen dari dua cairan yang tidak dapat saling bercampur. Proses emulsifikasi ini memungkinkan pemberian sebuah obat cair dalam bentuk tetesan-tetesan kecil (globules) ketimbang dalam bentuk curah (bulk). Untuk emulsi yang diberikan lewat mulut, tipe emulsi minyak-dalam-cair memungkinkan dihilangkannya rasa pahit pada obat berupa minyak dengan cara menebarkannya pada sebuah medium cair yang manis yang bisa terasa sampai ke dalam perut. Ukuran partikel bulatan minyak yang berkurang bisa menjadikan minyak tersebut lebih dapat dicerna dan lebih mudah diserap atau lebih efektif. Sebagai contoh, keampuhan minyak mineral yang meningkat sebagai sebuah obat pencahar ketika diformulasi dalam bentuk emulsi.   

Pengaruh Ekstraksi Pra-molar dan Molar Pertama Tambahan (AFMEs) Terhadap Jaringan Lunak

Abstrak Tujuan : Untuk menentukan pengaruh ekstraksi pra-molar dan molar pertama tambahan (AFMEs) terhadap perubahan jaringan lunak setelah dilakukan empat ekstraksi pra-molar pada pasien-pasien high Angle Class II division 1. Bahan dan Metode: Sebanyak 33 pasien AFME, 24 diantaranya hanya mengalami AFME maxillary dan 9 mengalami AFME lengkap, diteliti dengan analisis cephalometri dan dibandingkan dengan 43 pasien yang dirawat dengan empat ekstraksi pra-molar (PRME) sebagai sebuah kelompok kontrol. Cephalogram lateral yang dilakukan pada empat titik waktu (pra-perawatan, sebelum AFME, pasca-perawatan, dan retensi)  digunakan untuk analisis statistik dengan uji-t Student. Hasil : AFME secara signifikan dapat memberikan kontribusi bagi retraksi incisor maxillary dan perubahan jaringan halus selanjutnya sebagaimana diukur dengan sudut-Z dan garis E bibir bawah. Disamping itu, analisis korelasi bivariat menunjukkan bahwa perubahan-perubahan jaringan lunak lebih berkorelasi dengan...

Efikasi Pernis Fluoride Dalam Mencegah Karies Dini Pada Anak

Abstrak Untuk menentukan efikasi pernis fluoride (5% NaF, Duraphat®, Colgate) sebagai tambahan untuk konseling dalam mencegah karies dini pada anak, maka kami melakukan sebuah percobaan klinis selama dua tahun. Percobaan ini bersifat acak dan para pemeriksa tidak mengetahui kondisi sampel. Pada awalnya, 376 anak yang bebas karies dari keluarga kelas ekonomi rendah (San Fransisco yang berkebangsaan China atau Hispanis) didaftarkan dalam penelitian ini (nilai mean usia  SD, 1.8  0,6 tahun). Semua keluarga menerima penyuluhan, dan anak-anak yang terdaftar ini dikelompokkan secara acak ke dalam kelompok-kelompok berikut: tidak ada pernis fluoride, pernis fluoride sekali setahun, atau pernis fluoride dua kali setahun. Penyimpangan protokol yang tidak diharapkan mengakibatkan beberapa anak memperoleh pernis fluoride yang kurang aktif dan tidak sesuai dengan yang telah ditentukan. Analisis menunjukkan adanya efek protektif pernis fluoride terhadap kejadian karies, p < 0,01. Analisis te...

Penggunaan ekstrak Terminalia chebula sebagai sebuah agen antikaries: sebuah studi klinis

Abstrak Obatan-obatan dari tanaman telah lama menjadi bagian dari sistem perawatan kesehatan tradisional kita, dan sifat-sifat antimikroba dari senyawa-senyawa yang diperoleh dari tanaman telah banyak dilaporkan. Tujuan dari penelitian kali ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak Terminalia chebula (sebuah tanaman obat) terhadap sampel-sampel saliva dan potensinya untuk digunakan sebagai sebuah agen antikaries dalam bentuk obat kumur. Sebuah ekstrak cair pekat dibuat dari buah T. chebula. Obat kumur dengan konsentrasi 10% dibuat dengan mengencerkan ekstrak dalam air suling yang steril. Keampuhan obat kumur dinilai dengan pegujian terhadap 50 sampel saliva. Sampel-sampel saliva diambil dari subjek-subjek yang telah ditetapkan berisiko tinggi untuk mengalami karies. pH saliva, kapasitas saliva untuk mempertahankan pH, dan aktivitas mikroba dinilai sebelum berkumur, sesaat setelah, dan 10 menit, 30 menit, dan 1 jam setelah berkumur. Terjadi peningkatan pH dan kapasitas penyanggaa...

Efikasi Pasta-gigi Anticalculus yang Mengandung Sodium exametaphosphate dan Stanno-fluoride

Abstrak Tujuan: Untuk membandingkan efikasi anticalculus dari sebuah pasta-gigi perlakuan (0.454% stanno-fluoride/sodium heksametaphosphate) dengan sebuah pasta-gigi kontrol negatif. Bahan dan Metode: Penelitian ini adalah penelitian kelompok secara acak, samar-pemeriksa dan paralel. Setelah tiga bulan berjalan, subjek-subjek yang memenuhi syarat dibagi ke dalam dua kelompok secara acak, yaitu kelompok pasta-gigi perlakuan dan kelompok pasta-gigi kontrol. Masing-masing kelompok memakai pasta-gigi dua kali dalam sehari selama 6 bulan. Pemeriksaan Indeks Volpe-Manhold (V-MI) dan pemeriksaan jaringan lunak pada mulut dilakukan pada awal penelitian, setelah tiga bulan dan setelah 6 bulan. Analisis tambahan dilakukan secara terpisah pada tiga bulan dan enam bulan terhadap tiga sub-kelompok yang dikategorikan sebagai subjek dengan pembentukan calculus tinggi, sedang dan rendah. Hasil: Jika dibandingkan dengan kelompok kontrol, kelompok pasta-gigi perlakuan memiliki skor calculus rata-r...

Pengaruh Konsentrasi Fluoride dan pH Terhadap Sifat Korosif Titanium untuk Penggunaan pada Gigi

Abstrak Titanium digunakan sebagai sebuah logam untuk material biokompatibel seperti implant gigi atau restorasi karena stabilitas kimianya yang sangat baik. Akan tetapi, korosi Ti dalam lingkungan yang mengandung fluoride profilaksis bisa menjadi masalah. Untuk mengklarifikasi efek konsentrasi fluoride dan pH terhadap sifat korosi Ti, maka kami melakukan uji polarisasi anoda dan uji perendaman dalam larutan NaF dengan berbagai nilai konsenrasi dan pH konsentrasi. Ti terlarut dalam larutan uji dianalisis dengan menggunakan spektroskopi massa plasma berpasangan secara induktif. Terlihat batas-batas konsentrasi fluoride yang jelas dan nilai pH dimana sifat korosi Ti mengalami perubahan. Korosi Ti dalam larutan yang mengandung fluoride tergantung pada konsentrasi asam hidrofluorat (HF). Apabila konsentrasi HF dalam larutan lebih besar dari 30 ppm, maka lapisan pasifasi pada Ti akan rusak. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara konsentrasi fluoride dan nilai pH pada...