Posts

Showing posts from May, 2010

Evaluasi dan Perbandingan Retensi Post-Post Estetik

Abstrak Fungsi utama sebuah post corona-radicular adalah untuk memberikan retensi bagi sebuah inti dan retensi tersebut penting bagi ketahanan restorasi yang dipasang pada gigi yang dirawat secara endodontik. Logam cast post-and-core telah menjadi sebuah tehnik yang umum digunakan di masa lalu untuk meningkatkan retensi mahkota dan jembatan pada gigi nonvital. Dengan banyaknya pilihan estetik yang tersedia untuk merestorasi gigi anterior, restorasi-restorasi post-and-core berwarna saat ini telah menjadi sebuah pilihan untuk merestorasi gigi non-vital. Akan tetapi, dalam survei literatur, sangat sedikit artikel yang ditemukan membahas tentang retensi post-post estetik yang sudah jadi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan dan membandingkan: 1. Retensi post-post estetik dalam saluran akar. 2. Efek agen-agen pengikat terhadap retensi post. 3. Perbedaan (jika ada) dengan post-post logam cast konvensional. Kata kunci: Agen pengikat, perekatan, serat kaca, Instron, lent...

Penjelasan tentang Lichen Planus

PENDAHULUAN Latar Belakang : Lichen Planus (LP) adalah sebuah erupsi pruritic (gatal), papular (terdapat papula) yang ditandai dengan warna biru keungu-unguan; bentuknya polygonal; dan terkadang berskala beraturan. Paling sering ditemukan pada permukaan flexor ekstremitas atas, genitalia, dan pada membran mukus. Lichen Planus (LP) kemungkinan besar adalah sebuah reaksi yang dimediasi oleh sistem kekebalan. Patofisiologi : LP merupakan sebuah respon kekebalan yang dimediasi sel dengan asal-usul yang tidak diketahui. LP bisa ditemukan bersama dengan penyakit gangguan sistem kekebalan lainnya antara lain colitis ulceratif, alopecia areata, vitiligo, demartomyositis, morphea, lichen sclerosis, dan myasthenia gravis. Ada hubungan yang ditemukan antara LP dengan infeksi virus hepatitis C, hepatitis aktif kronis, dan cirrhosis biliary primer.

Pengaruh Ekstrak Daun Lepidagathis alopecuroides dan Azadirachta indica terhadap Mortalitas Larva Anopheles gambiae dan Culex quinquefasciatus

Abstrak Dalam penelitian ini dilakukan analisis banding antara sifat-sifat larvisida dari ekstrak cair daun Lepidagathis alopecuroides dan Azadirachta indica (mimba)  terhadap larva Anopheles gambiae dan Cluex quinquefasciatus. Analisis menunjukkan bahwa L. alopecuroides lebih toksik terhadap kedua larva, sedangkan C. quinquefasciatus lebih peka terhadap ekstrak dari kedua tanaman. Untuk ekstrak dari 500 mg daun dalam 1 L air, waktu mematikan (LT50) untuk C. quinquefasciatus dan A. gambiae dengan ekstrak L. alopecuroides memiliki perbandingan 1:4,5, sedangkan untuk ekstrak daun mimba 1:21,8. Tidak ada kematian yang ditemukan pada A. gambiae yang diekspos terhadap daun mimba pada semua konsentrasi sampai munculnya nyamuk dewasa. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa L. alopecuroides lebih potensial dibanding mimba dan bisa dikembangkan sebagai sebuah sumber yang murah, efektif dan terbaharukan yang dapat diikutsertakan dalam program pemberantasan malaria di Nigeria khususnya dan negar...

Penyakit Kusta Lucio dan Latapi yang Difusif: sebuah kajian histologis

Ringkasan Latar belakang dan tujuan: Ladislao de la Pascua menemukan kusta berbintik atau lazarine untuk pertama kalinya pada tahun 1844. Selanjutnya, Lucio dan Alvarado mengkaji dan mempublikasikannya dengan nama yang sama pada tahun 1952. Latapi menemukanannya kembali pada tahun 1938 dan melaporkannya sebagai kusta Lucio “Berbintik” pada tahun 1948. Frenken menyebutkan kusta Lucio dan Latapi difusif pada tahun 1963. Latapi dan Chevez-Zamora menjelaskan bahwa kondisi fundamental dari varietas kusta ini adalah sebuah infiltrasi kutaneous rampat, dengan menyebutnya lepromatosis difusif murni dan primitif, yang padanya berkembang lesi-lesi nekrosis, sehingga lesi-lesi ini disebut Fenomeno de Lucio atau erythema necrotisans. Banyak laporan histopatologi yang menyinggung penelitian fenomena Lucio, dan beberapa diantaranya menyinggung tentang perubahan-perubahan histopatologi yang terjadi selama perjalanan penyakit kusta lepromatous difusif. Tujuan dari penelitian ini adalah melaporkan te...

POLA-POLA GANGGUAN KOMPONEN-KOMPONEN UNIT KUKU

Diagnosa penyakit kuku hanya didasarkan pada lokasi-lokasi patologi primer dan sekunder. Pembahasan dalam bab ini juga didasarkan pada pendekatan seperti ini. Sifat biologi unit kuku dibahas pada Bab 13 dan bedah kuku dibahas pada Bab 280. Perubahan-Perubahan Kontur Umum     Clubbing didefinisikan sebagai bertambahnya lengkungan kuku secara melintang dan longitudinal. Clubbing terdiri dari hypertrofi komponen-komponen jaringan lunak pada pulpa jari; hyperplasia jaringan fibrovaskular pada pangkal kuku, yang memungkinkan plat kuku menjadi goyang; dan cyanosis lokal. Pada orang normal, jika dorsum dua jari dari tangan yang berlawanan diperhadapkan, maka akan terbentuk sebuah “celah” berbentuk-berlian yang terbentuk pada pangkal alas kuku (Gbr. 72-1). Clubbing yang terjadi secara dini akan membentuk celah yang lain dan membentuk sebuah sudut distal yang jelas antara ujung-ujung kuku (Gbr. 72-2). Hampir 80 persen kasus clubbing diakibatkan oleh gangguan-gangguan intrathor...

Masalah-Masalah Pada Kuku

Trachyonychia (kuku kasar) diamati pada penyakit-penyakit kulit sebagai sebuah dystrophy pada seluruh kuku (20 kuku) atau pada kuku dari salah satu jari, yang diakibatkan oleh penggunaan bahan kimia eksternal. Perubahan-Perubahan Warna Kuku Istilah chromonychia menunjukkan sebuah kelainan warna pada bagian dalam dan/atau permukaan plat kuku dan/atau jaringan-jaringan subungal. Pemeriksaan terhadap kuku-kuku abnormal harus dilakukan dengan jari-jari berada dalam posisi rileks dan tidak menekan pada sebuah permukaan. Untuk membedakan antara perubahan-warna plat kuku dengan pangkal kuku vascular, ujung jari harus dipucatkan (blanched) untuk menentukan apakah warna berubah. Jika pigmen berasal dari pembuluh-pembuluh darah (misalnya., pada methemoglobinemia), maka warna tersebut biasanya hilang. Jika pigmentasi tidak berubah pada uji blancing, maka bisa dihilangkan dengan sebuah penlight yang ditekankan pada pulpa, yang berarti bahwa pigmen terletak dalam pangkal kuku; posisi pasti dari...

Koreksi Open Bite Skeletal dengan Alat RMI (Rapid Molar Intruder) pada Anak-Anak Yang Sedang dalam Masa Perkembangan

Abstrak Tujuan : Untuk menentukan efek dentofacial dari sebuah alat fungsional cekat, yaitu RMI (Rapid Molar Intruder). Bahan dan Metode : Dalam penelitian ini dibentuk satu kelompok kontrol (n = 10) dan dua kelompok perlakuan (n = 10 masing-masing). Kelompok perlakuan pertama terdiri dari anak-anak yang sedang mengalami periode pertumbuhan gigi campuran yang hanya mendapatkan terapi RMI. Kelompok perlakuan kedua terdiri dari anak-anak yang telah memasuki masa pertumbuhan awal gigi permanen dan mengalami terapi RMI dan terapi alat cekat (edgewise) secara bersamaan. Perubahan nilai mean untuk pengukuran bagi masing-masing kelompok dievaluasi dengan uji Wilcoxon. Perbandingan perubahan nilai mean antara kelompok dilakukan dengan uji Kruskal-Wallis. Hasil : Koreksi open-bite dicapai dengan perputaran mandibula dengan arah berlawanan jarum-jam sebagai akibat dari pertumbuhan yang menyimpang pada kelompok perlakuan. Sudut ANB berkurang secara signifikan (P < 0,05). Pengurangan sign...

Kontaminasi Air-Tanah dengan Arsenik dan Dampak Kesehatan yang Ditimbulkan Terhadap Penduduk di Sebuah Perkampungan di Bengal Barat, India

Abstrak Sebuah kajian mendalam dilakukan di Rajapur, sebuah perkampungan yang terkontaminasi arsenik di Bengal barat, India, untuk menentukan tingkat kontaminasi air-tanah dengan arsenik dan dampak dari kontaminasi ini terhadap para penduduk. Metode FI-HG-AAS (spektrometri serapan atom generasi hidrida injeksi aliran) digunakan untuk mengukur konsentrasi arsenik dalam air dan sampel-sampel biologis. Para ahli-dermatologi mencatat ciri-ciri dermatologic dari arsenikosis.     Dari total 336 sumur-tabung-pompa-tangan di Rajapur, 91% (307/336) mengandung arsenik pada konsentrasi > 10 ug/l, dan 63% (213/336) mengandung arsenik pada konsentrasi > 50 ug/l. Tipe arsenik pada air-tanah, variasi konsentrasi arsenik menurut kedalaman sumur-tabung, dan konsentrasi ion dalam sumur juga diukur. Secara keseluruhan, 825 dari 3500 penduduk diperiksa lesi-lesi kulit nya; dari jumlah ini, 149 memiliki lesi yang diakibatkan oleh paparan terhadap arsenik. Dari 420 sampel biologis ya...